profil

about me

Labels

Minggu, 17 Februari 2013

~~~mAssA LaLu~~~

semua orang punya masa lalu. . .
semua orang punya cerita. . .

begitu juga dengan ku . . .
masa lalu yang buruk akan berarti jika kita sudah disadarkanNYA

masa lalu tak selalu buruk karena bisa memberi kita ibrah
masa lalu punya cerita menarik di setiap orang. . .

dulu aku berfikir,,, kenapa aku di beri masa lalu yang membuatku
tak bisa memaafkan diriku sendiri...

namun sekarang,,, dengan adanya masa lalu...
aku bisa merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain.

dan bisa aku ceritakan kepada orang yang mengikuti jejakku...
sebagian orang baik... mempunyai masa lalu kelam,,,
itu hal yang aku jadikan pegangan dalam perubahan di hidupku...

bahkan temanku yang mungkin lama tidak bertemu,,,
akan terheran melihatku...
banyak cemoohan, hujatan, tapi itu resiko. . .

orang hidup penuh dengan resiko. . .
diam resiko, berjalanpun juga penuh resiko...
karena sama2 mendapat resiko...
aku memilih untuk berjalan,
karena resiko saat berjalan mengantarkan kita pada tujuan yang jelas...
namun resiko saat kita diamkan, tak membuahkan apa2...

yang terpenting dihidupku,,,
aku berbakti kepada orang tua,,,
aku tak menyusahkan mereka,
dan kelak mereka tidak terkena siksa berat
karena mempertanggungjawabkan perbuatanku,,,
maafkan aku Pak...Buk...


terlalu bodohnya aku jika aku berdo'a agar orangtuaku tidak menanggung
perbuatanku tapi aku tidak menghentikan perbuatanku...

^_^ ABOUT YOU ^_^

Can’t stop thinking about you
Can’t stop talking about you
Can’t stop dreaming about you
About you, about you


itu tadi secarik lagu dari blink dengan judul about you...
 ntah mengapa terkesan menarik ketika mendengar sedikit kutipan itu. . .

about you. . .  tentangmu...atau kisah tentangmu. . .

sebagian besar orang berfikir YOU diterjemahkan sebagai pacar atau kekasih hati...
tetapi menurutku,,, YOU adalah jodoh... about you,,, tentang jodoh ku.
jodoh itu apa??? siapa??? bagaimana???
 jodoh memang sangat penuh dengan misteri, tak ada yang mengetahui rahasianya...
tapi sangat dirindukan oleh kebanyakan orang yang mulai meninggalkan masa remajanya ,,,
 "Remaja merupakan masa peralihan antara masa anak dan masa dewasa yang berjalan antara umur 12 tahun sampai 21 tahun."
 bahkan saat mulai menginjak di usia remajapun, mereka sudah mulai merindukan seseorang...
kenapa??? bagaimana???

aku pun juga tak tahu. . .

jodoh,,,   aku ingin bertemu kamu,,,
suatu saat nanti, di usia, keadaan, dan tempat yang terbaik untuk kita. . .
aku sering berandai2 tentangmu,,,
tapi siapa kamu???  masih tanda tanya besar di diriku...
andai kau tahu keadaanku. . .
sangat lemah dan buruknya aku. . .
namun demi kamu. . .
demi anak2 kita nanti. . .

sekarang aku sedang mempersiapkan diri,
mencari jati diriku yang sebenarnya,
aku selalu berusaha untuk menjadi yang terbaik di hidupmu kelak. . .
namun aku hanya manusia biasa, 
iman ku tak bisa ku jaga untuk tetap diatas,,,

begitu mudahnya imanku turun, , ,
tapi sangat sulit untukku naik hingga tertatih. . .

perjuangan,  hanya semangat yang bisa ku pertahankan,,,
namun semangat itu ada hanya ketika aku melihat keluargaku,,,
betapa berat bebanku sebagai anak pertama,,,

dan kamu jodohku kelak,,,
akan menjadi menantu pertama bagi kedua orang tuaku...

aku belum mengenalmu...
kamu pun juga belum mengenalku. . .

tapi Tuhan telah menciptakanku dari tulang rusukmu,,,
bukan dari tulang tengkorak yang kau puja...
bukan dari tulang kaki yang kau injak...
tapi dari tulang rusuk, dimana aku perlukan dekapan dan kasih sayangmu. . .

hanya dengan mengandalkan kekuatan do'a kita yang ingin dipertemukan...
Tuhan akan mempertemukan kita kelak,,,

ku jaga diri untuk mu. . .
dan semoga kau jaga diri untukku . . .

سيا  منكينتيمو سمور  هيدوبمو

إ  لف  يو فوريفير    مي  هني




Minggu, 10 Februari 2013

cinta sejati - BCL - ost.habibie_ainun

manakala hati menggeliat mengusik renungan
mengulang kenangan saat cinta menemui cinta
suara sang malam dan siang seakan berlagu
dapat aku dengar rindumu memanggil namaku

saat aku tak lagi di sisimu
ku tunggu kau di keabadian

aku tak pernah pergi, selalu ada di hatimu
kau tak pernah jauh, selalu ada di dalam hatiku
sukmaku berteriak, menegaskan ku cinta padamu
terima kasih pada maha cinta menyatukan kita

saat aku tak lagi di sisimu
ku tunggu kau di keabadian

cinta kita melukiskan sejarah
menggelarkan cerita penuh suka cita
sehingga siapa pun insan tuhan
pasti tahu cinta kita sejati

saat aku tak lagi di sisimu
ku tunggu kau di keabadian

cinta kita melukiskan sejarah
menggelarkan cerita penuh suka cita
sehingga siapa pun insan tuhan
pasti tahu cinta kita sejati

lembah yang berwarna
membentuk melekuk memeluk kita
dua jiwa yang melebur jadi satu
dalam kesunyian cinta

cinta kita melukiskan sejarah
menggelarkan cerita penuh suka cita
sehingga siapa pun insan tuhan
pasti tahu cinta kita sejati

Minggu, 25 November 2012

Keutamaan Puasa di Bulan Muharram


Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ وَأَفْضَلُ الصَّلاَةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلاَةُ اللَّيْلِ
Puasa yang paling utama setelah (puasa) Ramadhan adalah (puasa) di bulan Allah (bulan) Muharram, dan shalat yang paling utama setelah shalat wajib (lima waktu) adalah shalat malam.“[1].


Hadits yang mulia ini menunjukkan dianjurkannya berpuasa pada bulan Muharram, bahkan puasa di bulan ini lebih utama dibandingkan bulan-bulan lainnya, setelah bulan Ramadhan[2].


Mutiara hikmah yang dapat kita petik dari hadits ini:
- Puasa yang paling utama dilakukan pada bulan Muharram adalah puasa ‘Aasyuura’ (puasa pada tanggal 10 Muharram), karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukannya dan memerintahkan para sahabat radhiyallahu ‘anhum untuk melakukannya[3], dan ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya tentang keutamaannya beliau bersabda,  يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ

 “Puasa ini menggugurkan (dosa-dosa) di tahun yang lalu“[4].
- Lebih utama lagi jika puasa tanggal 10 Muharram digandengankan dengan puasa tanggal 9 Muharram, dalam rangka menyelisihi orang-orang Yahudi dan Nashrani, karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika disampaikan kepada beliau bahwa tanggal 10 Muharram adalah hari yang diagungkan orang-orang Yahudi dan Nashrani, maka beliau bersabda,
فَإِذَا كَانَ الْعَامُ الْمُقْبِلُ – إِنْ شَاءَ اللَّهُ – صُمْنَا الْيَوْمَ التَّاسِعَ
Kalau aku masih hidup tahun depan, maka sungguh aku akan berpuasa pada tanggal 9 Muharram (bersama 10 Muharram).” [5]
- Adapun hadits,
صُومُوا يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَخَالِفُوا فِيهِ الْيَهُودَ صُومُوا قَبْلَهُ يَوْماً أَوْ بَعْدَهُ يَوْماً
Berpuasalah pada hari ‘Aasyuura’ dan selisihilah orang-orang Yahudi, berpuasalah sehari sebelumnya atau sehari sesudahnya.“[6], maka hadits ini lemah sanadnya dan tidak bisa dijadikan sebagai sandaran dianjurkannya berpuasa pada tanggal 11 Muharram[7].
- Sebagian ulama ada yang berpendapat di-makruh-kannya (tidak disukainya) berpuasa pada tanggal 10 Muharram saja, karena menyerupai orang-orang Yahudi, tapi ulama lain membolehkannya meskipun pahalanya tidak sesempurna jika digandengkan dengan puasa sehari sebelumnya[8].
- Sebab Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan puasa tanggal 10 Muharram adalah karena pada hari itulah Allah Ta’ala menyelamatkan Nabi Musa álaihis salam dan umatnya, serta menenggelamkan Fir’aun dan bala tentaranya, maka Nabi  Musa ‘alaihis salam pun berpuasa pada hari itu sebagai rasa syukur kepada-Nya, dan ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mendengar orang-orang Yahudi berpuasa pada hari itu karena alasan ini, maka beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
فَنَحْنُ أَحَقُّ وَأَوْلَى بِمُوسَى مِنْكُمْ
Kita lebih berhak (untuk mengikuti) Nabi Musa ‘alaihis salam daripada mereka“[9]. Kemudian untuk menyelisihi perbuatan orang-orang Yahudi, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menganjurkan untuk berpuasa tanggal 9 dan 10 Muharram[10].
- Hadits ini juga menunjukkan bahwa shalat malam adalah shalat yang paling besar keutamaannya setelah shalat wajib yang lima waktu[11].
***
Penulis: Ustadz Abdullah Taslim Al Buthoni, M.A.
Artikel www.muslim.or.id

[1] HSR Muslim (no. 1163).
[2] Lihat keterangan Syeikh Muhammad bin Shaleh al-Utsaimin dalam Syarhu Riyadhis Shalihin (3/341).
[3] Dalam HSR al-Bukhari (no. 1900) dan Muslim (1130).
[4] HSR Muslim (no. 1162).
[5] HSR Muslim (no. 1134).
[6] HR Ahmad (1/241), al-Baihaqi (no. 8189) dll, dalam sanadnya ada perawi yang bernama Muhammad bin Abdurrahman bin Abi Laila, dan dia  sangat buruk hafalannya (lihat Taqriibut Tahdziib hal. 493). Oleh karena itu syaikh al-Albani menyatakan hadits ini lemah dalam Dha’iful Jaami’ (no. 3506).
[7] Lihat kitab Bahjatun Nazhirin (2/385).
[8] Lihat keterangan Syeikh Muhammad bin Shaleh al-Utsaimin dalam as-Syarhul Mumti’ (3/101-102).
[9] Semua ini disebutkan dalam HSR al-Bukhari (3216) dan Muslim (1130).
[10] Lihat keterangan syaikh Muhammad al-Utsaimin dalam Syarhu Riyadhis Shalihin (3/412).
[11] Lihat kitab Bahjatun Nazhirin (2/329).

Minggu, 11 November 2012

‘Kalah’ Melawan Alquran, Dr Jeffrey Lang Menerima Islam


Sejak kecil Dr Jeffrey Lang dikenal ingin tahu. Ia kerap mempertanyakan logika sesuatu dan mengkaji apa pun berdasarkan perspektif rasional.

 “Ayah, surga itu ada?” tanya Jeffrey kecil suatu kali kepada ayahnya tentang keberadaan surga, saat keduanya berjalan bersama anjing peliharaan mereka di pantai.

Bukan suatu kejutan jika kelak Jeffrey Lang menjadi profesor matematika, sebuah wilayah dimana tak ada tempat selain logika. Saat menjadi siswa tahun terakhir di Notre Dam Boys High, sebuah SMA Katholik, Jeffrey Lang memiliki keberatan rasional terhadap keyakinan akan keberadaan Tuhan. Diskusi dengan pendeta sekolah, orangtuanya, dan rekan sekelasnya tak juga bisa memuaskannya tentang keberadaan Tuhan. “Tuhan akan membuatmu tertunduk, Jeffrey!” kata ayahnya ketika ia membantah keberadaan Tuhan di usia 18 tahun.

Ia akhirnya memutuskan menjadi atheis pada usia 18 tahun, yang berlangsung selama 10 tahun ke depan selama menjalani kuliah S1, S2, dan S3, hingga akhirnya memeluk Islam. Adalah beberapa saat sebelum atau sesudah memutuskan menjadi atheis, Jeffrey Lang mengalami sebuah mimpi. Berikut penuturan Jeffrey Lang tentang mimpinya itu: Kami berada dalam sebuah ruangan tanpa perabotan. Tak ada apa pun di tembok ruangan itu yang berwarna putih agak abu-abu. Satu-satunya ‘hiasan’ adalah karpet berpola dominan merah-putih yang menutupi lantai.

 Ada sebuah jendela kecil, seperti jendela ruang bawah tanah, yang terletak di atas dan menghadap ke kami. Cahaya terang mengisi ruangan melalui jendela itu. Kami membentuk deretan. Saya berada di deret ketiga. Semuanya pria, tak ada wanita, dan kami semua duduk di lantai di atas tumit kami, menghadap arah jendela. Terasa asing. Saya tak mengenal seorang pun. Mungkin, saya berada di Negara lain.

Kami menunduk serentak, muka kami menghadap lantai. Semuanya tenang dan hening, bagaikan semua suara dimatikan. Kami serentak kami kembali duduk di atas tumit kami. Saat saya melihat ke depan, saya sadar kami dipimpin oleh seseorang di depan yang berada di sisi kiri saya, di tengah kami, di bawah jendela.

 Ia berdiri sendiri. Saya hanya bisa melihat singkat punggungnya. Ia memakai jubah putih panjang. Ia mengenakan selendang putih di kepalanya, dengan desain merah. Saat itulah saya terbangun. Sepanjang sepuluh tahun menjadi atheis, Jeffrey Lang beberapa kali mengalami mimpi yang sama. Bagaimanapun, ia tak terganggu dengan mimpi itu. Ia hanya merasa nyaman saat terbangun.

 Sebuah perasaan nyaman yang aneh. Ia tak tahu apa itu. Tak ada logika di balik itu, dan karenanya ia tak peduli kendati mimpi itu berulang. Sepuluh tahun kemudian, saat pertama kali memberi kuliah di University of San Fransisco, dia bertemu murid Muslim yang mengikuti kelasnya. Tak hanya dengan sang murid, Jeffrey pun tak lama kemudian menjalin persahabatan dengan keluarga sang murid. Agama bukan menjadi topik bahasan saat Jeffrey menghabiskan waktu dengan keluarga sang murid. Hingga setelah beberapa waktu salah satu anggota keluarga sang murid memberikan Alquran kepada Jeffrey. Kendati tak sedang berniat mengetahui Islam, Jeffrey mulai membuka-buka Alquran dan membacanya. Saat itu kepalanya dipenuhi berbagai prasangka. “Anda tak bisa hanya membaca Alquran, tidak bisa jika Anda tidak menganggapnya serius.

Anda harus, pertama, memang benar-benar telah menyerah kepada Alquran, atau kedua, ‘menantangnya’,” ungkap Jeffrey. Ia kemudian mendapati dirinya berada di tengah-tengah pergulatan yang sangat menarik. “Ia (Alquran) ‘menyerang’ Anda, secara langsung, personal. Ia (Alquran) mendebat, mengkritik, membuat (Anda) malu, dan menantang. Sejak awal ia (Alquran) menorehkan garis perang, dan saya berada di wilayah yang berseberangan.” “Saya menderita kekalahan parah (dalam pergulatan). Dari situ menjadi jelas bahwa Sang Penulis (Alquran) mengetahui saya lebih baik ketimbang diri saya sendiri,” kata Jeffrey. Ia mengatakan seakan Sang Penulis membaca pikirannya.

 Setiap malam ia menyiapkan sejumlah pertanyaan dan keberatan, namun selalu mendapati jawabannya pada bacaan berikutnya, seiring ia membaca halaman demi halaman Alquran secara berurutan. “Alquran selalu jauh di depan pemikiran saya. Ia menghapus aral yang telah saya bangun bertahun-tahun lalu dan menjawab pertanyaan saya.” Jeffrey mencoba melawan dengan keras dengan keberatan dan pertanyaan, namun semakin jelas ia kalah dalam pergulatan. “Saya dituntun ke sudut di mana tak ada lain selain satu pilihan.” Saat itu awal 1980-an dan tak banyak Muslim di kampusnya, University of San Fransisco. Jeffrey mendapati sebuah ruangan kecil di basement sebuah gereja di mana sejumlah mahasiswa Muslim melakukan sholat.

Usai pergulatan panjang di benaknya, ia memberanikan diri untuk mengunjungi tempat itu. Beberapa jam mengunjungi di tempat itu, ia mendapati dirinya mengucap syahadat. Usai syahadat, waktu shalat dzuhur tiba dan ia pun diundang untuk berpartisipasi. Ia berdiri dalam deretan dengan para mahasiswa lainnya, dipimpin imam yang bernama Ghassan. Jeffrey mulai mengikuti mereka shalat berjamaah.

 Jeffrey ikut bersujud. Kepalanya menempel di karpet merah-putih. Suasananya tenang dan hening, bagaikan semua suara dimatikan. Ia lalu kembali duduk di antara dua sujud. “Saat saya melihat ke depan, saya bisa melihat Ghassan, di sisi kiri saya, di tengah-tengah, di bawah jendela yang menerangi ruangan dengan cahaya. Dia sendirian, tanpa barisan. Dia mengenakan jubah putih panjang. Selendang (scarf) putih menutupi kepalanya, dengan desain merah.” “Mimpi itu! Saya berteriak dalam hati. Mimpi itu, persis! Saya telah benar-benar melupakannya, dan sekarang saya tertegun dan takut. Apakah ini mimpi? Apakah saya akan terbangun? Saya mencoba fokus apa yang terjadi untuk memastikan apakah saya tidur. Rasa dingin mengalir cepat ke seluruh tubuh saya. Ya Tuhan, ini nyata! Lalu rasa dingin itu hilang, berganti rasa hangat yang berasal dari dalam.

 Air mata saya bercucuran.” Ucapan ayahnya sepuluh tahun silam terbukti. Ia kini berlutut, dan wajahnya menempel di lantai. Bagian tertinggi otaknya yang selama ini berisi seluruh pengetahuan dan intelektualitasnya kini berada di titik terendah, dalam sebuah penyerahan total kepada Allah SWT. Jeffrey Lang merasa Tuhan sendiri yang menuntunnya kepada Islam. “Saya tahu Tuhan itu selalu dekat, mengarahkan hidup saya, menciptakan lingkungan dan kesempatan untuk memilih, namun tetap meninggalkan pilihan krusial kepada saya,” ujar Jeffrey kini. Jeffrey kini professor jurusan matematika University of Kansas dan memiliki tiga anak.

 Ia menulis tiga buku yang banyak dibaca oleh Muslim AS: Struggling to Surrender (Beltsville, 1994); Even Angels Ask (Beltsville, 1997); dan Losing My Religion: A Call for Help (Beltsville, 2004). Ia memberi kuliah di banyak kampus dan menjadi pembicara di banyak konferensi Islam.

Selasa, 15 Februari 2011

Malaikat Mendoakan Kita wahai saudaraku

Dari Abu Hurairah radiyallahuanhu Bahwasanya Nabi SallAllahu 'alayhi wasallam, bersabda : "Setiap pagi ada dua malaikat yang datang kepada seseorang, dimana yang satu berdoa : 'Wahai Allah, berikanlah ganti kepada orang yang menafkahkan hartanya', dan malaikat yang lain berdoa 'Wahai Allah, binasakanlah harta orang yang kikir'". ( HR. Bukhori Muslim )

Dalam keseharian kita terkadang lupa bahwa ada saja malaikat yang selalu mendoakan dan menjaga kehidupan kita. Dengan tidak cape dan bosan mereka selalu saja mendoakan serta menyumpahi bagi mereka yang tidak mau berinfaq di jalan Allah.

Alangkah beruntungnya manusia yang beriman jika mampu merasakan akan keberkahan hidupnya baik dalam harta, jiwa dan rizki. Merugilah mereka yang dalam hidupnya tidak merasakan bahwa para malaikat berada di sisinya.

Anggapan sebagian kita manusia bahwa harta yang keluar dari diri mereka akan merugikan dan mengurangi simpanan yang ada, bahkan ada yang berpikir bahwa semakin banyak harta keluar maka kita akan jadi miskin. Harta jadi berkurang karena kita shodaqoh, wah perasaan merugi pokoknya. Seakan penyesalan yang tiada hentinya ketika harta itu keluar.

Sementara tidak ada kamusnya bagi mereka yang banyak bersodaqoh akan miskin. Yang ada adalah Allah akan selalu menambah dan menambah harta kita. Kalau logika berpikir manusia adalah setiap yang keluar berarti berkurang, namun kamus Allah berkata lain, semakin banyak keluar semakin banyak harta yang ada diterima.

Di sisi lain Allah memberikan busyro (kabar gembira) kepada umatnya, bahwa harta yang dikeluarkan tidak pernah akan hilang. Malahan akan kekal abadi selamanya di sisi Allah. Akan menjadikan bekal bagi dirinya ketika menemui Allah, itulah sebuah kebanggan dalam meraih kesuksessan di dunia dan akhirat.

Dalam hadits lain diriwayatkan, "apabila anak adam mati, maka yang tersisa adalah amal jariah, anak yang sholeh dan ilmu yang bermanfaat". Berinfaq ataupun bershodaqoh masuk dalam kategori amal jariah, yaitu amal yang berkesinambungan terus menerus.

Setiap pagi Allah mengutus malaikat-Nya untuk mencari dimana hamba Allah yang berinfaq menafkahkan hartanya di jalan Allah. Kebanggaan Allah tat kala melihat hambanya menafkah harta yang diamanahkan kepadanya. Bahkan bukan saja harta itu bermanfaat dan barakah, tapi para malaikat juga mendoakan agar harta itu juga berlimpah ruah. Betapa beruntungnya jika seorang muslim tiap harinya selalu giat berinfaq.

Bagi mereka yang kikir tidak mengeluarkan hartanya di jalan Allah, takut karena harta itu berkurang. Maka bukan saja malaikat mendoakan agar hartanya binasa, Allah pun murka dengan sikap seorang muslim seperti itu. Maka jika Allah sudah murka, tunggulah azab yang akan menimpa dirinya.

Orang yang kikir itu tidaklah kaya di mata Allah, malah hina di hadapan-Nya. Sedang orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah, lebih mulia dan dibanggakan Allah serta di cintai-Nya. Betapa nikmatnya kalau kita selalu hidup beriringan dengan kemauan yang Allah inginkan.

Jika kita sadar dan mengetahui bahwa semua manusia itu adalah miskin, tidak mempunyai apa-apa atau sesuatu yang di banggakan terhadap manusia. Maka sudah barang tentu tidak segan-segan untuk mengeluarkan harta yang di titipkan pada dirinya. Mereka yakin harta yang ada pada mereka itu bukan miliknya, tapi Allah-lah yang memberikan itu semua, sebagai sarana untuk mencapai keridhoan Allah dalam mengemban amanat.

Misi dalam hidup di dunia adalah bagaimana mengoptimilisasi semua amanat dalam dirinya menjadi sebuah arus yang dapat menghempas semua kekerdilan dan kehinaan diri. Menuju sebuah cita-cita untuk meraih akhirat dengan memperbanyak amal kebajikan dengan segala daya upaya.

Desah Nurani Hamba Yang Bertaubat

Dua puluh tahun umurku telah berlalu, aku hidup di dalam kegelapan yang teramat pekat, berjalan kesurupan yang membabi buta. Hidupku hanyalah untuk satu menit. Aku tidak pernah melihat masa depan, karena terlelap menikmati kegembiraan masa mudaku. Kukira, aku selalu hidup kekal seperti ini. Hidup sendiri, di tengah manusia yang telah kuanggap mati.

Dua puluh tahun telah berlalu. Aku tidak pernah merasakan dunia ini melainkan kehambaran. Hartaku banyak. Kawanku juga banyak. Apalagi yang masih kurang pada diriku? Namun, di dalam jiwaku ini kurasakan kelaparan, di dadaku kurasakan ada kesempitan. Apakah yang bisa mengenyangkan kelaparan jiwaku itu? Siapakah yang bisa melonggarkan kesempitan dadaku itu?

Musik. Sama sekali, ia tidak bisa mengenyangkan jiwaku. Berbagai hiburan. Sama sekali, itu tidak bisa melonggarkan kesempitan di dadaku.

Bahkan, yang terjadi kebalikannya. Jiwaku semakin lapar dan kesempitan dadaku semakin bertambah.

Aku pun berganti-ganti kawan. Aku pergi kesana kemari menyanyikan lagu-lagu manis untuk dunia. Aku sering bergadang juga berhura-hura. Aku sudah lelah, sementara kelaparan jiwaku terus bertambah. Demikian pula kesempitan. Kurasakan diriku ini seperti terpenjara di dunia. Dunia yang begitu luas kurasakan teramat sempit.

Jiwaku terus mengeluhkan kelaparan. Dadaku terus mengadukan kesempitannya. Kesempitan yang tidak bisa dilapangkan hiburan-hiburan yang ada di dunia. Aku sering berfikir dan selalu lama. Akhirnya. Jalan pemecahan yang kuharapkan muncul juga! Sekarang, aku akan segera merasakan ketenangan. Akan kuhilangkan kelaparan jiwaku. Aku akan melapangkan kesempitan dadaku.

Lihatlah? Pisau ini telah berada di tanganku. Berkilat tersenyum. Ia menyukai jalan keluar yang kuambil ini.

Semua orang sudah tidur, sementara seluruh keluargaku juga sudah terlelap. Tinggal beberapa saat lagi aku akan merasakan masa-masa ketenangan. Namun, sementara aku dalam detik-detik genting itu, dengan pisau yang telah berada di tangan kananku, yang merapat ke dekat jantungku yang telah mati sekonyong-konyong dari ujung kesunyian, sebuah suara terdengar mendayu-dayu berkata : “Allah Akbar, Allahu Akbar!”

Pisauku terjatuh. Hatiku yang telah mati tiba-tiba kembali bergerak. Tidakkah engkau merenungi makna sebelum ini?

Aku mulai mewujudkan kehendak jiwaku untuk menyambut seruan itu. Aku mengambil air wudhu’ dan mulai berwudhu’.

Kualirkan air di wajahku yang kalut. Segera kurasakan di sana ada ketenangan. Dari wajahku lalu terus meresap ke dalam jiwaku.

Aku keluar ke jalan raya berjalan menuju masjid. Dunia terlihat menyeramkan dengan kesunyiannya. Tak ada sebisingan tak ada keramaian.

Aku sudah masuk masjid ketika muazin mengucapkan, As-shalaatu khairun minan nauum (Shalat itu lebih baik dari pada tidur), sebagai panggilan untuk melaksanakan shalat subuh. Aku berbaris di dalam shaff bersama orang-orang.

Mereka adalah sekelompok manusia yang tak pernah kujumpai gayanya, sepanjang hidupku ini!

Tampak wajah-wajah putih memancarkan cahaya. Jiwa-jiwa yang damai.

Dari kelompok orang itu majulah seorang imam.

Dia berdiri berhadapan dengan jama’ah memerintahkan mereka meluruskan shaff.

Wajah lelaki itu membuat diriku berdiri terpana. Wajah putih dikelilingi janggut hitam yang tebal.

Janggut itu semakin memperindah wajahnya dan keindahan itu memperjelaskan ketampanannya. Wajahnya dan janggut itu laksana bulan purnama putih –indah dilihat—yang berada di tengah-tengah langit berwarna hitam pekat, yang justru menampakkan keindahan dan kebagusannya.

Keduanya seperti sebutir mutiara berkilauan memancarkan cahaya. Cahaya dari butir mutiara itu terlihat semakin gemerlap karena diletakkan di atas selembar sutra hitam.

Lelaki itu memulai shalatnya. Aku mengikuti shalat dibelakangnya. Jiwaku terasa damai. Dadaku terasa lega. Dia mulai membaca ayat demi ayat.

Aku diam membisu.

Pada detik-detik itu sebutir air mataku jatuh. Kurasakan asinnya, kurasakan sentuhannya yang menyengat. Tetesan itu diikuti dengan satu isakan. Lalu menetes lagi satu butir yang lain.

Menetes lagi sebutir, lalu air mataku pun mengalir deras. Aku mulai mengeluarkan tangisan tulus, yang menimbulkan gemuruh di dalam jiwaku seperti gemuruhnya periuk mendidih. Lelaki itu, seakan-akan sedang menghujani hatiku dengan kalam Illahi, air mata inilah yang menghidupkan hati nuraniku dari kematiannya. Bersama hujan deras ini suara guntur terdengar menggelegar. Guntur itu adalah guntur taubat. Suara isak dan tangisku karena takut kepada Rabbinnaas “Pencipta, Pengatur, Pendidik dan Pemelihara umat manusia.”