profil

about me

Labels

Tampilkan postingan dengan label NEWS. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label NEWS. Tampilkan semua postingan

Kamis, 21 Februari 2013

Mualaf yang Menjadi 500 Muslim Berpengaruh di Dunia




 Sobat Nida yang sejak lahir sudah beragamakan Islam, ada kisah menarik nih dari seorang mualaf asal Amerika. Semoga kisah ini mampu menginspirasi kita ya untuk mensyukuri nikmat Islam (sejak lahir) dengan terus berprestasi dan bermanfaat untuk sesama. Yuk ah simak kisahnya...
Kakeknya adalah seorang pengkhutbah gereja. Dari ceramah-ceramah sang kakek, ia mengetahui banyak hal tentang Kristen. “Aku bukan orang yang tidak mengenal agamaku dengan baik. Aku mengenalnya, tidak menerimanya, dan kemudian tidak mempercayainya.”
Cucu sang pengkhutbah gereja itu bernama William Webb. Saat berusia 20 tahun, ia memperlengkap namanya menjadi William Suhaib Webb sebagai penanda identitas barunya. Ia resmi menjadi Muslim setelah tiga tahun gamang dengan agamanya.
“Aku pergi ke gereja tiga kali seminggu. Dan aku juga membaca Bibel,” katanya saat diwawancarai dalam program islami independen “The Deen Show”. Meski bukan umat Kristen yang taat, Webb mengaku mengetahui banyak hal tentang Kristen dari aktivitas keagamaan yang dilakukannya, serta dari ceramah kakeknya.
Ia menuturkan, sejak masih muda Webb telah merasa tak mampu mencerna informasi dan ajaran agamanya tentang Trinitas. “Bahwa Tuhan ada tiga atau bahwa ia adalah satu dari tiga.” Selain itu, dari kitab suci yang dibacanya, Webb menemukan dua tuhan berbeda dari kitab Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. “Sejak itu, aku tidak bisa lagi mempercayai ajaran agamaku,” ujarnya.
Webb lalu mendatangi ibunya dan bertanya tentang Yesus Anak Tuhan yang mati untuk menebus dosa-dosa umatnya. “Aku bertanya apakah itu inti dari penebusan dosa. Ia (ibuku) menjawab ‘Ya’.” Tak puas, Webb mengejar dengan pertanyaan lainnya. “Lalu bagaimana dengan para Nabi yang diutus sebelum Yesus? Tak satupun dari mereka percaya pada ketuhanan Yesus.”
Pada titik itu, Webb mengetahui bahwa para nabi, terutama Ibrahim dan Musa yang disebutkan dalam Alkitab, berdoa dan menyembah satu tuhan. “Bahkan Yesus sendiri tidak pernah mengatakan dirinya Tuhan, dan dia juga berdoa pada Tuhannya,” katanya.
Tak mendapat jawaban dari sang ibu, Webb memulai pencariannya. Tiga tahun lamanya pria kelahiran 1972 ini membaca Alquran, kitab yang banyak didengarnya dari khutbah kakeknya. Selain itu, hal lain yang mendorongnya mendekati Alquran adalah stigma positif tentang Islam kala itu.
“Tidak seperti sekarang, pada masa itu kami (masyarakat AS) berpikiran bahwa para Muslim adalah orang-orang yang benar.” Bahkan, katanya, ada pendapat yang mengatakan bahwa siapapun yang ingin menjadi orang benar dan lurus, ia harus bergaul dengan Muslim.
Dalam Islam, Webb menemukan jawaban atas segala pertentangannya terhadap ajaran agama terdahulunya. Ketika diminta menjelaskan tentang Allah, Webb mengatakan Allah adalah satu Dzat yang unik. “Karena ia tak menyerupai apapun dan siapapun. Wa lam yakullahuu kufuwan ahad.”
“Karena itu, Allah tidak mungkin punya anak. Jika Ia beranak, maka Ia menyerupai makhluknya.” Mengenai dosa warisan, Webb tegas menjawab Islam hanya percaya pada fitrah yang dibawa manusia sejak lahir. “Konsep dosa warisan itu tidak adil, sedangkan Allah bukan Dzat Yang tidak adil,” tegasnya.
Pada usia 14 tahun, krisis keyakinan dalam diri Webb menjelma pada ketidakpercayaan pada agama yang dipeluknya, dan mulai terlibat kenakalan dan bergabung dengan sebuah geng lokal. Ia juga menjadi seorang DJ hip-hop dan produser lokal yang sukses, serta melakukan rekaman bersama sejumlah artis.
Namun demikian, dengan semua itu, Webb mengaku tak bahagia. “Aku sukses secara materiil, namun secara interal merasa kosong,” katanya. Kekosongan itu membuatnya kerap merasa tertekan dan sedih. “Padahal hidupku dikelilingi uang, perempuan, klub, dan geng yang hebat. Semua berjalan dengan baik,’ katanya.
Setelah masuk Islam, Webb meninggalkan karirnya di dunia musik yang telah menghidupinya itu. Ia mengikuti gairahnya menyelami dunia pendidikan. Setelah memperoleh gelar sarjananya di University of Central Oklahoma, ia berguru intensif mengenai ilmu-ilmu Islam dari seorang ulama terkenal berdarah Senegal.
Lalu, sejak 2004 hingga 2010, Webb mendalami Islam di Fakultas Syariah Universitas Al-Azhar Kairo. Selama periode tersebut, setelah beberapa tahun belajar bahasa Arab dan hukum Islam di sana, ia menjadi kepala Departemen Penerjemahan Inggris di Darul Iftah al-Misriyyah. Di luar disiplin ilmu yang ditekuninya, Suhaib menyelesaikan hafalan Alqurannya di Makkah, dan telah mendapatkan sejumlah ijazah (lisensi yang menunjukkan standar keulamaan yang tinggi).
Kini, Suhaib Webb adalah Muslim Amerika yang juga dikenal sebagai pendidik, aktivis, dan dosen. Karya-karyanya menjembatani pemikiran Islam klasik dan kontemporer. Ia membidik isu-isu relevansi budaya, sosial, dan politik bagi kelangsungan Muslim di Barat.
Webb juga diminta menjadi imam di Komunitas Islam Oklahoma, di mana ia rutin memberikan khutbah, mengajar kelas-kelas agama, dan menjadi konselor bagi keluarga dan pemuda Muslim di sana. Di luar itu, ia menjadi imam dan pemuka agama bagi komunitas-komunitas di seluruh penjuru AS.
Webb pernah menggalang dana sebesar 20.000 dollar AS untuk janda dan anak-anak pemadam kebakaran yang tewas dalam serangan 11 September. Sebagai mualaf, Webb mengaku hidup di tengah masyarakat non-Muslim di AS bukan hal yang mudah. Di tengah kecurigaan dan islamofobia di kalangan masyarakat AS, ia bertekad untuk terus menunjukkan citra Islam yang sesungguhnya dan menciptakan kehidupan beragama yang harmonis.
Selain itu, Webb telah memberikan kuliah di berbagai belahan dunia termasuk Timur Tengah, Asia Timur, Eropa, Afrika Selatan, dan Amerika Utara. Sepulangnya dari Mesir, ia tinggal di wilayah Teluk, Kalifornia, di mana ia bekerja bersama Komunitas Muslim Amerika sejak musim gugur 2010 hingga musim dingin 2011.
Belum lama ini, ia menerima sebuah posisi sebagai imam Pusat Budaya Komunitas Islam Boston (masjid terbesar di wilayah New England) hingga ia memutuskan untuk membawa keluarganya ke Boston dan menetap di sana.
Pada 2010, Royal Islamic Strategic Studies Center memasukkannya ke dalam daftar 500 Muslim Paling Berpengaruh di Dunia. Dan laman situs internetnya, www.suhaibwebb.com, terpilih sebagai “Blog of The Year” terbaik setahun sebelumnya.

Nasihat Orang Terkaya Nomor 3 di Dunia



Inilah Orang terkaya no 3 di dunia, Warren Buffet memberi nasehat :


"Jauhkan dirimu dari pinjaman bank atau kartu kredit dan berinvestasilah dengan apa yang kau miliki, serta ingat :

1. Uang tidak menciptakan manusia, manusialah yang menciptakan uang.

2. Hiduplah sederhana sebagaimana dirimu sendiri.

3. Jangan melakukan apapun yang dikatakan orang, dengarkan mereka, tapi lakukan apa yang baik saja.

4. Jangan memakai merk, pakailah yang benar, nyaman untukmu.

5. Jangan habiskan uang untuk hal-hal yang tidak benar-benar penting.

6. With money:
You can buy a house, but not a home.
You can buy a clock, but not time.
You can buy a bed, but not sleep.
You can buy a book, but not knowledge.
You can get a position, but not respect.
You can buy blood, but not life. So find your happiness inside you.

7. Jika itu telah berhasil dalam hidupmu, berbagilah dan ajarkanlah pada orang lain.

"Orang Yang Berbahagia Bukanlah Orang Yang Hebat Dalam Segala Hal, Tapi Orang Yang Bisa Menemukan Hal Sederhana Dalam Hidupnya dan Mengucap Syukur"

3 Bocah Ajaib yang Menggemparkan Dunia Islam


“Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Qur’an dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya” (QS. Al Hijr : 9).

Di antara cara Allah memelihara Al Qur’an adalah Dia memudahkan kitab suci dihafal oleh orang-orang yang dikehendaki-Nya. Di antara sekian banyak penghafal Qur’an, ada 3 bocah ajaib yang cukup menggemparkan dunia Islam di era modern ini.

1. Husein Tabattaba'i

Bocah ini berasal dari Iran. Selain hafal Qur'an, ia juga bisa menjelaskan isi Al Qur'an dalam bahasa Persi. Kecanggihan lainnya, ia bisa dengan mudah mencari surat apa ayat berapa ketika ditanya tentang Al Qur'an, layaknya search engine. Ia pun disebut-sebut sebagai mukjizat abad XX.

Pada Februari 1998, Husein Tabataba’i yang saat itu berusia 7 tahun menerima gelar doktor (honoris causa) dari Hijaz Colledge Islamic University di Inggris, setelah ia lulus ujian doktoral di sana dengan nilai 93 dalam bidang Science of The Retention of Holy Quran.

2. Syarifuddin Khalifah

Bocah ini disebut sebagai mukjizat dari Afrika. Mengapa? karena Ia hafal Qur'an pada usia 1,5 tahun. Padahal orangtuanya adalah katolik. Selain itu, bocah dari Tanzania ini berhasil mengIslamkan ribuan orang dalam usia 5 tahun.

Jika Husein Tabattaba’i hafal Qur’an karena “diprogram” sejak dini melalui pendidikan keluarga dan pendidikan Islam, Syarifuddin Khalifah hafal Qur’an secara misterius. Saat bayi lain baru belajar satu suku kata seperti menyebut panggilan “Ma” atau “Pa”, ia sudah melafalkan ayat Al-Qur’an. Sebelumnya, bayi Syarifuddin Khalifah sudah bisa berkata menolak dibaptis ketika ia dibawa ke gereja. Keislaman Syarifuddin Khalifah dan keajaiban-keajaibannya kemudian membawa kedua orangtuanya merengkuh hidayah. Keduanya pun masuk Islam.

Masa-masa menggemparkan terjadi setelah itu. Ketika bocah ajaib ini berkeliling mendakwahkan Islam. Kemampuan orasinya yang didasari pada hafalan Qur’an, ditambah dengan hafal Alkitab dan paham sejumlah agama dan keyakinan penduduk Afrika membuat mereka takjub. Tidak sedikit kemudian orang yang mendapatkan hidayah melalui dakwah bocah ajaib itu.

3. Rukkayatu Fatahu Umar

Jika dua bocah sebelumnya adalah laki-laki, bocah muslim ajaib ketiga ini perempuan. Ia berasal dari Nigeria. Pada usia 3 tahun ia telah hafal seluruh Al Qur'an. Ia lulus ujian para ulama pada 24 Januari 2013 kemarin, saat wisuda sekolah Syekh Dhahiru. Sebelumnya, orang-orang di wilayah Baauchi penasaran dengan cerita gadis tiga tahun yang hafal Al Qur’an. Akhirnya rasa penasaran mereka terjawab setelah menyaksikan kemampuan Rukkayatu Fatahu Umar pada acara wisuda tersebut.

Rukkayatu mulai menghafal saat berkunjung ke sekolah bersama ibunya yang seorang guru. Di sana ia mendengar dan menirukan siswa kelas hafalan.

bersamadakwah.com

Minggu, 11 November 2012

‘Kalah’ Melawan Alquran, Dr Jeffrey Lang Menerima Islam


Sejak kecil Dr Jeffrey Lang dikenal ingin tahu. Ia kerap mempertanyakan logika sesuatu dan mengkaji apa pun berdasarkan perspektif rasional.

 “Ayah, surga itu ada?” tanya Jeffrey kecil suatu kali kepada ayahnya tentang keberadaan surga, saat keduanya berjalan bersama anjing peliharaan mereka di pantai.

Bukan suatu kejutan jika kelak Jeffrey Lang menjadi profesor matematika, sebuah wilayah dimana tak ada tempat selain logika. Saat menjadi siswa tahun terakhir di Notre Dam Boys High, sebuah SMA Katholik, Jeffrey Lang memiliki keberatan rasional terhadap keyakinan akan keberadaan Tuhan. Diskusi dengan pendeta sekolah, orangtuanya, dan rekan sekelasnya tak juga bisa memuaskannya tentang keberadaan Tuhan. “Tuhan akan membuatmu tertunduk, Jeffrey!” kata ayahnya ketika ia membantah keberadaan Tuhan di usia 18 tahun.

Ia akhirnya memutuskan menjadi atheis pada usia 18 tahun, yang berlangsung selama 10 tahun ke depan selama menjalani kuliah S1, S2, dan S3, hingga akhirnya memeluk Islam. Adalah beberapa saat sebelum atau sesudah memutuskan menjadi atheis, Jeffrey Lang mengalami sebuah mimpi. Berikut penuturan Jeffrey Lang tentang mimpinya itu: Kami berada dalam sebuah ruangan tanpa perabotan. Tak ada apa pun di tembok ruangan itu yang berwarna putih agak abu-abu. Satu-satunya ‘hiasan’ adalah karpet berpola dominan merah-putih yang menutupi lantai.

 Ada sebuah jendela kecil, seperti jendela ruang bawah tanah, yang terletak di atas dan menghadap ke kami. Cahaya terang mengisi ruangan melalui jendela itu. Kami membentuk deretan. Saya berada di deret ketiga. Semuanya pria, tak ada wanita, dan kami semua duduk di lantai di atas tumit kami, menghadap arah jendela. Terasa asing. Saya tak mengenal seorang pun. Mungkin, saya berada di Negara lain.

Kami menunduk serentak, muka kami menghadap lantai. Semuanya tenang dan hening, bagaikan semua suara dimatikan. Kami serentak kami kembali duduk di atas tumit kami. Saat saya melihat ke depan, saya sadar kami dipimpin oleh seseorang di depan yang berada di sisi kiri saya, di tengah kami, di bawah jendela.

 Ia berdiri sendiri. Saya hanya bisa melihat singkat punggungnya. Ia memakai jubah putih panjang. Ia mengenakan selendang putih di kepalanya, dengan desain merah. Saat itulah saya terbangun. Sepanjang sepuluh tahun menjadi atheis, Jeffrey Lang beberapa kali mengalami mimpi yang sama. Bagaimanapun, ia tak terganggu dengan mimpi itu. Ia hanya merasa nyaman saat terbangun.

 Sebuah perasaan nyaman yang aneh. Ia tak tahu apa itu. Tak ada logika di balik itu, dan karenanya ia tak peduli kendati mimpi itu berulang. Sepuluh tahun kemudian, saat pertama kali memberi kuliah di University of San Fransisco, dia bertemu murid Muslim yang mengikuti kelasnya. Tak hanya dengan sang murid, Jeffrey pun tak lama kemudian menjalin persahabatan dengan keluarga sang murid. Agama bukan menjadi topik bahasan saat Jeffrey menghabiskan waktu dengan keluarga sang murid. Hingga setelah beberapa waktu salah satu anggota keluarga sang murid memberikan Alquran kepada Jeffrey. Kendati tak sedang berniat mengetahui Islam, Jeffrey mulai membuka-buka Alquran dan membacanya. Saat itu kepalanya dipenuhi berbagai prasangka. “Anda tak bisa hanya membaca Alquran, tidak bisa jika Anda tidak menganggapnya serius.

Anda harus, pertama, memang benar-benar telah menyerah kepada Alquran, atau kedua, ‘menantangnya’,” ungkap Jeffrey. Ia kemudian mendapati dirinya berada di tengah-tengah pergulatan yang sangat menarik. “Ia (Alquran) ‘menyerang’ Anda, secara langsung, personal. Ia (Alquran) mendebat, mengkritik, membuat (Anda) malu, dan menantang. Sejak awal ia (Alquran) menorehkan garis perang, dan saya berada di wilayah yang berseberangan.” “Saya menderita kekalahan parah (dalam pergulatan). Dari situ menjadi jelas bahwa Sang Penulis (Alquran) mengetahui saya lebih baik ketimbang diri saya sendiri,” kata Jeffrey. Ia mengatakan seakan Sang Penulis membaca pikirannya.

 Setiap malam ia menyiapkan sejumlah pertanyaan dan keberatan, namun selalu mendapati jawabannya pada bacaan berikutnya, seiring ia membaca halaman demi halaman Alquran secara berurutan. “Alquran selalu jauh di depan pemikiran saya. Ia menghapus aral yang telah saya bangun bertahun-tahun lalu dan menjawab pertanyaan saya.” Jeffrey mencoba melawan dengan keras dengan keberatan dan pertanyaan, namun semakin jelas ia kalah dalam pergulatan. “Saya dituntun ke sudut di mana tak ada lain selain satu pilihan.” Saat itu awal 1980-an dan tak banyak Muslim di kampusnya, University of San Fransisco. Jeffrey mendapati sebuah ruangan kecil di basement sebuah gereja di mana sejumlah mahasiswa Muslim melakukan sholat.

Usai pergulatan panjang di benaknya, ia memberanikan diri untuk mengunjungi tempat itu. Beberapa jam mengunjungi di tempat itu, ia mendapati dirinya mengucap syahadat. Usai syahadat, waktu shalat dzuhur tiba dan ia pun diundang untuk berpartisipasi. Ia berdiri dalam deretan dengan para mahasiswa lainnya, dipimpin imam yang bernama Ghassan. Jeffrey mulai mengikuti mereka shalat berjamaah.

 Jeffrey ikut bersujud. Kepalanya menempel di karpet merah-putih. Suasananya tenang dan hening, bagaikan semua suara dimatikan. Ia lalu kembali duduk di antara dua sujud. “Saat saya melihat ke depan, saya bisa melihat Ghassan, di sisi kiri saya, di tengah-tengah, di bawah jendela yang menerangi ruangan dengan cahaya. Dia sendirian, tanpa barisan. Dia mengenakan jubah putih panjang. Selendang (scarf) putih menutupi kepalanya, dengan desain merah.” “Mimpi itu! Saya berteriak dalam hati. Mimpi itu, persis! Saya telah benar-benar melupakannya, dan sekarang saya tertegun dan takut. Apakah ini mimpi? Apakah saya akan terbangun? Saya mencoba fokus apa yang terjadi untuk memastikan apakah saya tidur. Rasa dingin mengalir cepat ke seluruh tubuh saya. Ya Tuhan, ini nyata! Lalu rasa dingin itu hilang, berganti rasa hangat yang berasal dari dalam.

 Air mata saya bercucuran.” Ucapan ayahnya sepuluh tahun silam terbukti. Ia kini berlutut, dan wajahnya menempel di lantai. Bagian tertinggi otaknya yang selama ini berisi seluruh pengetahuan dan intelektualitasnya kini berada di titik terendah, dalam sebuah penyerahan total kepada Allah SWT. Jeffrey Lang merasa Tuhan sendiri yang menuntunnya kepada Islam. “Saya tahu Tuhan itu selalu dekat, mengarahkan hidup saya, menciptakan lingkungan dan kesempatan untuk memilih, namun tetap meninggalkan pilihan krusial kepada saya,” ujar Jeffrey kini. Jeffrey kini professor jurusan matematika University of Kansas dan memiliki tiga anak.

 Ia menulis tiga buku yang banyak dibaca oleh Muslim AS: Struggling to Surrender (Beltsville, 1994); Even Angels Ask (Beltsville, 1997); dan Losing My Religion: A Call for Help (Beltsville, 2004). Ia memberi kuliah di banyak kampus dan menjadi pembicara di banyak konferensi Islam.

Rabu, 09 Februari 2011

Tips Aman Ber-FB

Ketika kita membicarakan tentang jaminan sekuritas, kita sedang membicarakan tentang pencurian, virus, dan hack itu dapat menjangkitmu komputer atau Facebookmu dan hasilkan pada banyak gangguan untuk kamu dan kawanmu. Ketika keterangan loginmu dicuri, ini sering dikenal sebagai phishing .

Jaminan sekuritas adalah satu isu pada Facebook, cuma di mana-mana web, yaitu kenapa ini penting kesadaran online, dan untuk mempelajari bagaimana caranya melindungi rekeningmu dan komputermu.

Di sini beberapa cara pintar dan mawas pada Facebook:
• Kalau satu penghubung atau pesan tampak aneh, jangan klik di atasnya. Ini adalah benar diantara semua spam—dimana satu surat berantai, satu iklan, atau satu phishing pencurian. Kalau ini tampak aneh untuk kawan untuk menuliskan Tembok dan tempatkanmu satu penghubung, itu kawan mungkin telah memperoleh phished. Biarkan orang tahu, dan tidak klik pada hubungan terkait yang kamu tidak percayai.

• waspadalah akan dimana kamu memasuki kata sandimu. Hanya karena satu halaman pada Internet menyerupai Facebook, ini tidak berarti ini adalah Facebook sesungguhnya. Belajar mengatakan perbedaan di antara satu penghubung baik dan satu sesuatu buruk.

• Laporkan apapun surat sampah atau penyalahgunaan yang kamu pahami pada papan bahasan dan Dindingmu. Hubungan terkait laporan itu ada di sana untuk satu alasan. Lebih cepat kita menemukan surat sampah, lebih cepat kita dapat menyingkirkan ini dan menghilangkan spammers dari lokasi.

• Jangan mempergunakan kata sandi yang sama pada Facebook bahwa kamu pergunakan pada tempat lain pada web. Kalau kamu lakukan ini, phishers atau hackers yang memperoleh akses untuk salah satu rekeningmu akan dengan mudah mampu untuk akses orang lainmu juga. Kamu mungkin menemukan sendiri mengunci hingga orang tak dapa dari e-mailmu dan bahkan rekening bankmu.
• Jangan berbagi kata sandimu dengan siapapun. Tidak lakukan ini. Facebook tidak akan pernah meminta kata sandimu melalui apapun bentuk dari komunikasi. Kalau seseorang berpura-pura satu karyawan Facebook meminta kamu untuk ini, jangan memberikan ini di luar, dan laporkan orang dengan seketika.
• Jangan klik pada lampiran hubungan terkait atau buka pada e-mail curiga. E-mail gadungan dapat sangat yakin, dan hackers dapat lelucon "From:" mengalamatkan sangat e-mail menyerupai ini dari Facebook. Kalau e-mail melihat aneh, jangan percayai ini, dan hapus ini dari inboxmu.
• Tambahkan satu soal jaminan sekuritas. Kalau keterangan loginmu selalu memperoleh hack, kamu mungkin memerlukan ini untuk membuktikan identitasmu ke Facebook. Kalau kamu belum melakukannya, kamu dapat menambahkan satu soal jaminan sekuritas dari "Account Settings" halaman.
• Jadilah hati-hati dengan cerita tidak biasa. Kalau satu kontak kawan atau orang lain mengakui kamu untuk dihubungkan di suatu tempat dan diperolehan uang, verifikasi ini melalui berarti lain, seperti oleh berbicara ke orang melalui telpon.